Berita Masyarakat

dubeswisma

Hari ini (Kamis, 28 Juli 2016) agenda cukup berkualitas. Setelah makan pagi lontong sayur dengan rendang, kantuk datang. Akhirnya tidur lagi. Mungkin pengaruh dari kerang panggang yang kami makan semalam. Pukul 12 siang bangun, langsung siap-siap menuju kota Copenhagen atau København. Ibukota Denmark, yang berjarak sekitar 350 kilometer dari kampung kami tinggal di Ikast, Pulau Jutland.

Kami berangkat melalui jalan-jalan kampung yang sangat asri oleh pepohonan cemara di kiri-kanan jalan. Udara sejuk sekali di siang hari. Kami melewati jembatan di Vejle, kemudian belok ke kiri. Kalau lurus terus, menuju perbatasan Jerman. Kami belok ke kiri dan menyusuri jalan tol, melewati jembatan Fredericia dan sampai ke pulau Fyn atau Funen. Kemudian terus sampai ke ujung pulau di Nyborg untuk mulai mendaki menaiki jembatan Great Belt Bridge (Storebæltsbroen) yang menghubungkan antara Pulau Funen dengan Pulau Zeeland, pulau terbesar Denmark yang juga di mana ibukota Copenhagen berada.
Jembatan yang indah di atas laut, waktu dibangun merupakan jembatan kedua terpanjang di dunia. Dari atasnya kita bisa melihat kapal-kapal yang lewat. Sungguh luar biasa. Harga tolnya pun luar bisa, 240 kronor Denmark sekali jalan, sekitar 500 ribu rupiah.

Setelah turun jembatan, kami menyusuri jalan, sampai memasuki ibukota Denmark. Kami lewati semua landmark kota, kami sisir semua kawasan yang mempunyai bangunan-bangunan bersejarah, sungguh luar biasa indahnya. Kemudian kami memasuki kawasan jalan Langelinie. Kawasan tepi pantai yang bertaman indah dan dikunjungi ribuan turis dari berbagai negara setiap hari.

Sampai taman Langelinie, kami parkir kendaraan, kemudian kami melihat kerumunan manusia dari berbagai negara, kebanyakan dari Asia yang berdiri di tepi pantai untuk mengambil gambar dengan sebuah patung kecil yang menempel di atas tiga batu besar.

Yaa, hanya patung kecil, tidak lebih tingginya dari dua meter, namun ratusan orang datang silih berganti untuk berfoto dengan patung tersebut. Patung itu berbentuk putri duyung, the little mermaid, atau dalam bahasa Denmark dikenal dengan Den Lille Havfrue, salahsatu icon Copenhagen diilhami oleh cerita legenda rakyat yang dikarang oleh penulis Denmark Hans Christian Andersen.

Kemudian kami menuju daerah Kokkedal, sebuah kawasan sekirar 30 kilometer barat Copenhagen. Di sana ada seorang kawan, alumni Gontor bernama Ahmad Furqaan Noor, asal Kalimantan yang dikenal dengan Ronny. Bang Ronny seorang petualang, ahli masak semua masakan, dan mempunyai dua putri jelita hasil pernikahannya dengan seorang perempuan Denmark.

bakarsate0

Rumahnya dekat pantai tidak jauh dari sebuah bangunan bekas istana yang masuk ke dalam member of Small Luxury Hotels, Kokkedal Castle. Sesampai di rumahnya, kami sudah ditunggu oleh batubara di atas panggang. Tinggal menusukkan ayam ke lidi, kami bakar sama-sama, jadilah kami membakar sate ayam. Diselingi canda dan cerita nostalgia, abang kelas di Gontor ini membuat sambal kacang dengan kecap, kemudian sambel oeleg, benar-benar rizki kami hari ini, dapat makanan enak.

satesateBelum selesai makan sate, kami dapat informasi dari bang Ronny untuk bersilaturrahmi dengan  bapak duta besar RI untuk Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania, setelah selesai makan sate, kami pun mengunjungi wisma duta. Waduh! undangan yang tidak kami duga. Saya juga tertawa sendiri, menghadiri undangan dengan sepatu sport dan kaos jalan-jalan.

Kami langsung ke wisma duta, disambut hangat pak dubes dan nyonya. Pak dubes dan istri, sangat ramah dan bersahaja, humble sekali orangnya. Kami bercerita banyak. Suatu kemuliaan, dalam seminggu bertemu dan berdiskusi dengan dua dubes hebat, dubes RI untuk Belanda, mantan anggota tim perunding RI di Helsinki, I Gusti Agung Wesaka Puja beberapa hari yang lalu di Denhaag dan hari ini dubes untuk Denmark.

Usai salat magrib berjemaah, kemudian kami dijamu dengan mie Aceh! Yaa, mie Aceh pakai udang yang sempurna rasanya, sungguh nikmat yang tiada tara. Lagi-lagi rusak total program diet hari ini.

Dalam perjalanan pulang, biar yang bawa mobil tidak ngantuk, kami berdebat keras tentang masalah dana APBA dan masalah kunjungan dewan ke Amerika yang ramai-ramai bawa istri. Dalam debat disimpulkan, bahwa untuk mengetahui kondisi dan perkembangan luar negeri, anggota dewan tidak perlu untuk ramai-ramai kunker jauh-jauh menghabiskan dana publik, cukup menghubungi simpul-simpul masyarakat Aceh di luar sana untuk menanyakan sesuatu hal yang diperlukan. Herman Syah, mahasiswa PhD di Hamburg, berhasil menprovokasi kami untuk tidak tidur-tidur di mobil sampai ke rumah jam 4 pagi hari.
Sumber: Aceh Kita [Munawar Liza Zainal - Mantan WALIKOTA SABANG ACEH]